Postingan

Kisah Kelompok Enam Biksu - 3-Dhammapada

Dhammapada ayat 231, 232, 233 dan 234 bab Syair Kemarahan Kisah Kelompok Enam Biksu Kayappakopam rakkheyya, kayena samvuto siya, kayaduccaritam hitva, kayena sucaritam care. Vacipakopam rakkheyya, vacaya samvuto siya, vaciduccaritam hitva, vacaya sucaritam care. Manopakopam rakkheyya, manasa samvuto siya, manoduccaritam hitva, manasa sucaritam care. Kayena samvuta dhira, atho vacaya samvuta, manasa samvuta dhira, te ye suparisamvuta. Kendalikanlah perbuatan yang tidak benar, yang dilakukan oleh tubuh, hindari perilaku tidak benar, teruskan perbuatan-perbuatan benar. Kendalikanlah kata-kata yang tidak benar, yang dilakukan lewat ucapan, hindari ucapan yang salah, teruskan ucapan-ucapan benar. Kendalikanlah maksud-maksud yang tidak benar, yang dilakukan oleh pikiran, hindarilah pemikiran yang salah, teruskan pemikiran yang benar. Orang bijak mengendalikan perbuatannya, mengendalikan ucapannya, mengendalikan pikirannya, mereka akan menguasai diri dengan s...

Kisah Upasaka Atula - Dhammapada

Dhammapada ayat 227, 228, 229 dan 230 bab Syair Kemarahan Kisah Upasaka Atula Poranametam Atula, netam ajjatanamiva, nindanti tunhimasinam, nindanti bahubhaninam, mitabhanimpi nindanti, natthi loke anindito. Na cahu na ca bhavissati, na cetarahi vijjati, ekantam nindito poso, ekantam va pasamsito. Yam ce vinnu pasamsanti, anuvicca suve suve, acchiddavuttim medhavim, pannasilasamahitam. Nikkham jambonadasseva, ko tam ninditumarahati, devapi nam pasamsanti, brahmunapi pasamsito. Atula! Inilah kebiasaan lama, bukan hanya sekarang ini, mereka yang diam dikecam, mereka yang banyak bicara dikecam, mereka yang bicara seperlunya dikecam, tiada yang tidak dikecam di dunia ini. Tidak kini maupun nantinya, tidak akan pernah ada, seseorang yang selalu dikecam, maupun selalu dipuji. Namun, orang yang dipuji para bijak, setelah mengamatinya hari demi hari, adalah orang yang tanpa cela, bijaksana, dan mempunyai pengetahuan dan kebajikan. Orang yang berharga seperti ...

Kisah Punna, si Pelayan Wanita-Dhammapada

Dhammapada ayat 226 bab Syair Kemarahan Kisah Punna, si Pelayan Wanita Sada jagaramananam, ahorattanusikkhinam, nibbanam adhimuttanam, attham gacchanti asava. Mereka yang selalu waspada, disiplin siang dan malam, bertujuan mencapai nibbana, maka kekotoran batin mereka akan lenyap. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di gunung Gijjhakuta, di dekat kerajaan Magadha, sehubungan dengan seorang pelayan wanita di kota Rajagaha. Pada suatu malam, Punna, si pelayan wanita, sedang menumbuk beras untuk majikannya. Karena lelah ia pun beristirahat sejenak. Saat beristirahat, ia melihat biksu Dabba memimpin beberapa orang biksu kembali ke vihara setelah mendengarkan khotbah Dhamma. Punna yang melihat biksu-biksu itu masih terjaga, merenungkan, "Aku harus bangun sepagi ini karena aku begitu miskin dan harus bekerja keras. Namun, mengapa orang-oang baik itu juga bangun sepagi ini? Mungkinkah ada biksu yang sedang sakit, ataukah mereka sedang diganggu oleh seekor ula...

Brahmana Ayah Sang Buddha - Dhammapada

Dhammapada ayat 225 bab Syair Kemarahan Kisah Brahmana 'Ayah' Sang Buddha Ahimsaka ye munayo, niccam kayena samvuta, te yanti accutam thanam, yattha gantva na socare. Arahat yang tidak lagi menyakiti makhluk hidup, dan selalu mengendalikan tindakannya, ia akan menuju nibbana yang tiada kematian, tempat tiada kesedihan. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di taman Anjana, di dekat kota Saketa, sehubungan dengan seorang brahmana yang memanggil Sang Buddha dengan kata 'anakku'. Pada suatu ketika, Sang Buddha beserta beberapa orang biksu memasuki Saketa untuk menerima dana makanan. Seorang brahmana tua yang melihat kedatangan Sang Buddha, mendekatinya lalu berkata, "Putraku, mengapa Kau tidak terlihat begitu lama? Mari ikut aku, biar ibu-Mu bertemu dengan-Mu." Brahmana itu mengundang Sang Buddha ke rumahnya. Saat sampai di rumahnya, istri brahmana itu mengatakan hal yang sama kepada Sang Buddha dan memperkenalkan-Nya sebagai 'abang...

Kisah Pertanyaan Biksu Maha Moggallana-Dhammapada

Dhammapada ayat 224 bab Syair Kemarahan Kisah Pertanyaan Biksu Maha Moggallana Saccam bhane na kujjheyya, dajja appampi yacito, etehi tihi thanehi, gavvhe devana santike. Seharusnya seseorang bicara jujur, tidak terhanyut di dalam kemarahan, memberi walaupun sedikit saat diminta, ketiga perbuatan itu akan membawa seseorang ke surga. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, sehubungan dengan pertanyaan biksu Maha Moggallana. Pada suatu ketika, biksu Maha Moggallana mengunjungi alam surga dan melihat banyak sekali dewa-dewi yang hidup di bangunan-bangunan mewah. Sang biksu bertanya kepada mereka bajikan apa yang telah mereka tanam sehingga terlahir di alam dewa. Para dewa itu memberikan jawaban-jawaban yang berbeda. Salah satu dewa terlahir di alam surga bukan karena banyak berdana, bukan juga karena mendengarkan Dhamma, namun hanya karena ia selalu berkata jujur. Yang kedua menjawab adalah dewi yang terlahir di alam surga karena ia tidak mar...

Kisah Upasika Uttara - Dhammapada

Dhammapada ayat 223 bab Syair Kemarahan Kisah Upasika Uttara Akkodhena jine kodham, asadhum sadhuna jine, jine kadariyam danena, saccena'likavidinam. Atasi kemarahan dengan cinta kasih, atasi kejahatan dengan kebajikan, atasi kekikiran dengan kemurahan hati, dan atasi kebohongan dengan kejujuran. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Veluvana, di dekat kota Rajagaha, sehubungan dengan seorang upasika yang bernama Uttara. Uttara adalah putri dari seorang buruh tani yang bernama Punna. Punna bekerja untuk seorang kaya yang bernama Sumana di Rajagaha. Pada suatu hari, Punna dan istrinya mempersembahkan dana makanan kepada biksu Sariputra sesaat setelah ia bangkit dari meditasi pencerapan mental yang mendalam (nirodha sampatti), dan benih kebajikan itu dengan seketika membuahkan hasil bagi mereka. Suatu hari, Punna menemukan emas di ladang pada saat ia sedang membajak ladang dan raja mengangkatnya menjadi bankir kerajaan. Pada suatu ketika, kelu...

Kisah Seorang Biksu (3)- Dhammapada

Dhammapada ayat 222 bab Syair Kemarahan Kisah Seorang Biksu (3) Yo ve uppatitam kodham, ratham bhantamva varaye, tamaham sarathim brumi, rasmiggaho itaro jano. Orang yang dapat menahan kemarahan, seperti menahan kereta yang sedang melaju kencang, ialah seorang kusir sejati, sedangkan kusir lainnya hanya pemegang kendali belaka. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di stupa Aggalava, di dekat kota Alavi, sehubungan dengan seorang biksu. Pada suatu ketika, seorang biksu dari Alavi ingin membangun sebuah gubuk dan ia pun mulai menebang sebatang pohon. Dewi yang tinggal di pohon (Dewa Penunggu Pohon/Rukkha Devata) itu mencoba menghentikannya dengan berkata bahwa ia dan bayinya tidak punya tempat untuk tinggal. Gagal menghentikan biksu itu, dewi itu meletakkan bayinya pada sebatang dahan dengan harapan tindakan itu akan menghentikan biksu itu dari menebang pohonnya. Namun terlambat, biksu itu yang telah berancang-ancang, telah mengayunkan kapaknya. Ia tidak mampu...



Sekilas Info


PEMBANGUNAN VIHARA MAHASAMPATTI


Vihāra Mahāsampatti mengajak para dermawan berhati mulia untuk menjadi penyokong Dhamma dan penganjur berdana dengan berdana COR LANTAI.


Luas bangunan Vihāra Mahāsampatti ± 5555 m2. Untuk itu Vihāra Mahāsampatti yang terletak di Jalan Pajang No. 1-3-5-7-9-11, Kel. Sei Rengas Permata, Kec. Medan Area, Medan, Sumatera Utara, masih sangat membutuhkan kedermawanan Anda.



Baca di situs resminya:

http://donasi.viharamahasampatti.or.id





MEDITASI VIPASSANA


Sukhesikarama Mindfulness Forest (SUMMIT), Bakom, Cianjur, Jawa Barat:

Tempat terbuka sepanjang tahun bagi yang ingin berlatih secara intensif baik mingguan, bulanan, maupun tahunan.

Channel di Youtube Sukhesikarama TV

“Bukan ada waktu baru bermeditasi, tetapi luangkanlah banyak waktu untuk bermeditasi”





PEMBANGUNAN RAKKHITAVANA BUDDHIST CENTER


Panitia pembangunan RAKKHITAVANA BUDDHIST CENTRE memberi kesempatan untuk berbuat kebajikan, demi terwujudnya pembangunan RAKKHITAVANA BUDDHIST CENTRE di Jl. LetJend Jamin Ginting KM 27, sebagai tempat meditasi yang terpadu, sunyi, segar, serta bernuansa asri dengan lokasi yang terjangkau dalam waktu 1 jam dari kota Medan.

Baca di halaman Facebooknya:

Rakkhitavana.