Postingan

Kisah Murid Pertapa Non-Buddhis - Dhammapada

Dhammapada ayat 318 dan 319 bab Syair Neraka Kisah Murid Pertapa Non-Buddhis Avajje vajjamatino, vajje cavajjadassino. Micchaditthisamadana, satta gacchanti duggatim. Vajjanca vajjato natva, avajjanca avajjato. Sammaditthisamadana, satta gacchanti suggatim. Orang yang menganggap salah suatu yang benar, dan menganggap benar suatu yang salah. Karena pandangan salah ini, akan menuju alam yang menyedihkan. Orang yang tahu salah sebagai kesalahan, dan benar sebagai kebenaran. Karena pandangan benar ini, akan menuju alam yang membahagiakan. Sang Buddha mengucapkan kedua ayat ini pada saat berada di vihara Nigrodharama, di dekat kota Kapilavastu, sehubungan dengan beberapa orang pertapa Titthi yang non-buddhis. Para umat ajaran Titthi melarang anak-anak mereka untuk bergaul dengan anak-anak para umat Buddha. Mereka selalu mengingatkan anak-anak mereka, "Jangan pergi ke Jetavana." "Jangan bersujud kepada biksu-biksu suku Sakya." Pada suatu ketika, pad...

Kisah Pertapa Nigantha - Dhammapada

Dhammapada ayat 316 dan 317 bab Syair Neraka Kisah Pertapa Nigantha Alajjitaye lajjanti, lajjintaye na lajjare. Micchaditthisamadana, satta gacchanti duggatim. Abhaye bhayadassino, bhaye cabhayadassino. Micchadittisamadana, satta gacchanti duggatim. Orang yang malu terhadap yang tidak memalukan, dan tidak malu terhadap yang memalukan. Karena pandangan salah ini, akan menuju alam yang menyedihkan. Orang yang takut terhadap yang tidak menakutkan, dan tidak takut terhadap yang menakutkan. Karena pandangan salah ini, akan menuju alam yang menyedihkan. Sang Buddha mengucapkan kedua ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, di dekat kota Savatthi, sehubungan dengan pertapa-pertapa nigantha yang hanya menutupi bagian depan tubuh mereka saja. Pada suatu hari, beberapa orang pertapa nigantha pergi berkeliling menerima dana makanan sambil membawa mangkuk yang ditutupi sepotong pakaian. Beberapa orang biksu yang melihat mereka, berkata, "Para pertapa nigantha itu men...

Kisah Sejumlah Biksu - Dhammapada

Dhammapada ayat 315 bab Syair Neraka Kisah Sejumlah Biksu Nagaram yatha paccantam, guttam santarabahiram, evam gopetha attanam, khano vo ma upaccaga, khanatita hi socanti, nirayamhi samappita. Bagaikan benteng perbatasan, dijaga ketat luar maupun dalam, jagalah diri anda sendiri*, jangan sampai dirimu lengah, karena ia yang tidak waspada, akan bersedih saat terlahir di alam neraka. Jaga diri sendiri artinya menjaga 6 organ indera internal (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran.) dan 6 objek eksternal (bentuk, suara, aroma, rasa, sentuhan dan pemikiran). Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, di dekat kota Savatthi, sehubungan dengan sekelompok biksu yang melewatkan masa vassa di kota perbatasan. Pada bulan pertama sekelompok biksu berdiam di kota perbatasan, mereka dilayani dan dijaga dengan baik oleh penduduk kota. Pada bulan berikutnya kota itu dikuras oleh beberapa kelompok perampok dan beberapa warga diculik untuk dijadika...

Kisah Seorang Wanita Pencemburu - Dhammapada

Dhammapada ayat 314 bab Syair Neraka Kisah Seorang Wanita Pencemburu Akatam dukkatam seyyo, paccha tappati dukkatam, katanca sukatam seyyo, yam katva nanutappati. Lebih baik tidak berbuat kejahatan, karena ia akan tersiksa oleh penyesalan. Lebih baik melakukan kebajikan, karena ia tidak akan terbakar oleh menyesal. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, di dekat kota Savatthi, sehubungan dengan seorang wanita yang sifatnya pencemburu. Terdapat seorang wanita yang sangat pencemburu yang hidup bersama suaminya di Savatthi. Ia mengetahui kalau suaminya berselingkuh dengan pelayan wanitanya. Pada suatu hari, ia mengikat pelayannya itu dengan tali yang kuat, memotong kedua telinga dan hidungnya, lalu menguncinya di dalam sebuah kamar. Setelah melakukan hal itu, ia mengajak suaminya untuk menemaninya pergi ke vihara Jetavana. Sesaat setelah wanita itu dan suaminya berangkat, beberapa orang sanak saudara pelayannya tiba di rumahnya dan menemukan p...

Kisah Biksu Yang Keras Kepala - Dhammapada

Dhammapada ayat 311, 312 dan 313 bab Syair Neraka Kisah Biksu Yang Keras Kepala Kuso yatha duggahito, hatthamevanukantati. Samannam dupparamattham, nirayayupakadhati. Yam kinci sithilam kammam, samkilitthanca yam vatam. Sankassaram brahmacariyam, na tam hoti mahapphalam. Kayira ce kayirathenam, dalhamenam parakkame. Sithilo hi paribbajo, bhiyyo akirate rajam. Bagaikan tangan yang terluka, akibat salah menggenggam daun kusa. Demikian juga seorang biksu yang jahat, akan terseret ke alam neraka. Sembrono mengerjakan sesuatu, tekad yang tidak tulus, melanggar kehidupan suci, semua itu tak akan membuahkan hasil. Jika ada yang harus dikerjakan, kerjakanlah dengan tekun dan benar, kehidupan lemah sebagai seorang biksu, hanya akan menambah tumpukan debu rintangan. Sang Buddha mengucapkan ketiga ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, di dekat kota Savatthi, sehubungan dengan seorang biksu yang keras kepala. Terdapat seorang biksu yang merasa bersalah karena t...

Kisah Khemaka, Putra Orang Kaya - Dhammapada

Dhammapada ayat 309 dan 310 bab Syair Neraka Kisah Khemaka, Putra Orang Kaya Cattari thanani naro pamatto, apajjati paradarupasevi. Apunnalabham na nikamaseyyam, nindam tatiyam nirayam catuttham. Apunnalahho ca gati ca papika, bhitassa bhitaya rati ca thokika. Raja ca dandam garukam paneti, tasma naro paradaram na seve. Empat petaka akan menimpa orang ceroboh, yang melakukan perbuatan asusila. Menerima akibat buruk, tidur tidak nyenyak, difitnah, dan lahir di alam menyedihkan. Kesenangan sesaat pria dan wanita ketakutan itu, mengakibatkan hal buruk dan nasib buruk. Raja akan menjatuhkan hukuman berat, maka janganlah berbaring dengan pasangan orang lain. Sang Buddha mengucapkan kedua ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, di dekat kota Savatthi, sehubungan dengan Khemaka, putra orang kaya yang melakukan perbuatan asusila dengan istri orang lain. Khemaka, selain kaya raya, penampilannya juga menawan sehingga banyak sekali wanita yang sangat tertarik kepadanya....

Kisah Para Biksu Yang Tinggal Di Tepi Sungai Vaggumuda - Dhammapada

Dhammapada ayat 308 bab Syair Neraka Kisah Para Biksu Yang Tinggal Di Tepi Sungai Vaggumuda Seyyo ayogulo bhutto, tatto aggisikhupamo. Yance bhunjeyya dussilo, ratthapindamasannato. Lebih baik menelan sebutir bola besi panas, yang menyala bagaikan api. Daripada hidup tidak bermoral dan tak terkendali, dan makan dari dana masyarakat. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Kutagarasala, di Mahavana (hutan pohon sala), di dekat kota Vesali, sehubungan dengan beberapa orang biksu yang melewati masa vassa di dekat tepi sungai Vaggumuda. Pada suatu ketika, terjadi kelaparan di negeri suku Vajji. Oleh karenanya, agar bisa memperoleh cukup makanan, beberapa orang biksu berpura-pura berlagak sebagai biksu yang telah mencapai kesucian. Para warga pun percaya dan menghormati mereka, mempersembahkan makanan yang banyak untuk mereka dan menyisakan sedikit untuk diri mereka sendiri. Setelah masa vassa lewat, seperti biasanya, semua biksu dari seluruh penjuru datan...



Sekilas Info


PEMBANGUNAN VIHARA MAHASAMPATTI


Vihāra Mahāsampatti mengajak para dermawan berhati mulia untuk menjadi penyokong Dhamma dan penganjur berdana dengan berdana COR LANTAI.


Luas bangunan Vihāra Mahāsampatti ± 5555 m2. Untuk itu Vihāra Mahāsampatti yang terletak di Jalan Pajang No. 1-3-5-7-9-11, Kel. Sei Rengas Permata, Kec. Medan Area, Medan, Sumatera Utara, masih sangat membutuhkan kedermawanan Anda.



Baca di situs resminya:

http://donasi.viharamahasampatti.or.id





MEDITASI VIPASSANA


Sukhesikarama Mindfulness Forest (SUMMIT), Bakom, Cianjur, Jawa Barat:

Tempat terbuka sepanjang tahun bagi yang ingin berlatih secara intensif baik mingguan, bulanan, maupun tahunan.

Channel di Youtube Sukhesikarama TV

“Bukan ada waktu baru bermeditasi, tetapi luangkanlah banyak waktu untuk bermeditasi”





PEMBANGUNAN RAKKHITAVANA BUDDHIST CENTER


Panitia pembangunan RAKKHITAVANA BUDDHIST CENTRE memberi kesempatan untuk berbuat kebajikan, demi terwujudnya pembangunan RAKKHITAVANA BUDDHIST CENTRE di Jl. LetJend Jamin Ginting KM 27, sebagai tempat meditasi yang terpadu, sunyi, segar, serta bernuansa asri dengan lokasi yang terjangkau dalam waktu 1 jam dari kota Medan.

Baca di halaman Facebooknya:

Rakkhitavana.