Postingan

Kisah Biksu Sariputra -6- Dhammapada

Dhammapada ayat 400 bab Syair Brahmana Kisah Biksu Sariputra (6) Akkodhanam vatavantam, silavantam anussadam, dantam antimasariram, tamaham brumi brahmanam. Ia yang tidak mudah marah, berbakti, berbudi luhur, bebas dari keinginan, mengendalikan tubuh terakhirnya ini, ia Kusebut orang suci. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Veluvana, di dekat kota Rajagaha, sehubungan dengan biksu Sariputra. Pada saat Sang Buddha berdiam di vihara Veluvana, biksu Sariputra, ditemani 500 orang biksu, memasuki desa Nalaka dan berdiri di depan pintu rumah ibu kandungnya untuk menerima dana makanan. Ibunda biksu Sariputra mempersilakan mereka semua masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, pada saat ia mempersembahkan makanan kepada putranya ia berkata, "Kamu pemakan makanan sisa, kau yang telah menolak 80 crore (1 crore = 100.000 rupee) dengan menjadi biksu, kau telah menghancurkan kami." Lantas ia mempersembahkan makanan kepada biksu lain dan mencela mereka, ...

Kisah Brahmana Kasar Bersaudara - Dhammapada

Dhammapada ayat 399 bab Syair Brahmana Kisah Brahmana Kasar Bersaudara Akkosam vadhabandhanca, aduttho yo titikkhati, khantibalam balanikam, tamaham brumi brahmanam. Ia yang tidak marah, mampu menahan celaan, pukulan dan hukuman. Ia yang bersenjatakan kesabaran, ia Kusebut orang suci. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Veluvana, di dekat kota Rajagaha, sehubungan dengan abang-adik Bharadvaja yang bertabiat kasar. Terdapat seorang brahmana yang istrinya mempunyai kebiasaan latah setiap kali ia bersin atau ketika sesuatu atau seseorang tanpa sengaja menyentuhnya. Pada suatu hari, brahmana itu mengundang beberapa orang temannya untuk makan-makan dan istrinya tiba-tiba mengeluarkan kata-kata latah. Karena sudah mencapai kesucian tingkat sotapanna, kata-kata "Namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhassa" pasti menjadi ucapan latahnya. Namun kata-kata penghormatan kepada Sang Buddha itu amat tidak disukai oleh brahmana itu, suaminya. Dengan...

Kisah Dua Orang Brahmana - Dhammapada

Dhammapada ayat 398 bab Syair Brahmana Kisah Dua Orang Brahmana Chetva naddhim varattanca, sandanam sahanukkamam, ukkhittapaligham buddham, tamaham brumi brahmanam. Ia yang telah memotong kebencian, nafsu keinginan dan pandangan salah. Yang telah membuang ketidaktahuan dan tercerahkan, ia Kusebut orang suci. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, di dekat kota Savatthi, sehubungan dengan dua orang brahmana. Di Savatthi hiduplah 2 orang brahmana yang masing-masing memiliki seekor sapi jantan. Mereka berdua menyatakan bahwa sapi jantan miliknya yang paling baik dan kuat. Akhirnya, mereka setuju untuk menguji coba peliharaan mereka. Mereka pergi ke tepi sungai Aciravati dan memenuhi sebuah kereta dengan pasir. Secara bergiliran, sapi jantan mereka menarik kereta itu, namun sia-sia saja, karena kereta itu sama sekali tidak bergerak dan talinya yang terputus. Beberapa orang biksu yang melihat kejadian itu melaporkannya kepada Sang Buddha dan S...

Kisah Uggasena -2- Dhammapada

Dhammapada ayat 397 bab Syair Brahmana Kisah Uggasena (2) Sabbasamyojanam chetva, yo ve na paritassati, sangatigam visamyuttam, tamahan brumi brahmanam. Ia yang telah memotong semua belenggu, yang tiada lagi rasa gentar, yang telah mengatasi semua keterikatan, ia Kusebut orang suci. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, di dekat kota Savatthi, sehubungan dengan Uggasena, putra orang kaya, menjadi ahli akrobat Setelah menikahi seorang penari teater keliling, Uggasena dilatih ayah mertuanya yang seorang ahli akrobat, dan berhasil menjadi pemain akrobat yang sangat mahir. Pada suatu hari, pada saat Uggasena sedang mempertontonkan kemahirannya, Sang Buddha datang ke tempat ia berada. Setelah mendengar ajaran Sang Buddha, ia mencapai kesucian tingkat arahat pada saat sedang mempertunjukkan keseimbangan di atas sebilah tiang bambu. Setelah itu, ia turun dari tiang itu dan memohon kepada Sang Buddha untuk menerimanya menjadi seorang biksu dan akh...

Kisah Seorang Brahmana -5- Dhammapada

Dhammapada ayat 396 bab Syair Brahmana Kisah Seorang Brahmana (5) Na caham brahmanam brumi, yonijam mattisambhavam, bhovadi nama so hoti, sace hoti sakincano, akincanam anadanam, tamaham brumi brahmanam. Aku tidak menyebutnya orang suci, hanya berdasarkan keturunan atau keluarga. Jika ia penuh dengan keterikatan, ia hanyalah manusia congkak. Tetapi ia yang bebas dari rintangan dan keterikatan, ia Kusebut orang suci. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, di dekat kota Savatthi, sehubungan dengan seorang brahmana. Pada suatu ketika, seorang brahmana berpikir bahwa karena Sang Buddha menyebut murid-muridnya dengan kata brahmana (orang suci), maka ia juga seharusnya dipanggil dengan seorang brahmana karena ia terlahir dari keluarga kasta brahmana. Pada saat brahmana itu memberi tahu Sang Buddha tentang pemikirannya, Sang Buddha berkata, "Brahmana! Aku tidak berkata seseorang adalah orang suci hanya karena ia terlahir dari kasta brahma...

Kisah Biksuni Kisagotami -3- Dhammapada

Dhammapada ayat 395 bab Syair Brahmana Kisah Biksuni Kisagotami (3) Pamsukuladharam jantum, kisam dhamanisanthatam, ekam vanasmim jhayantam, tamaham brumi brahmanam. Ia yang memakai jubah kain bekas, yang tubuhnya kurus kering, bermeditasi seorang diri di hutan, ia Kusebut orang suci. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di gunung Burung Hering, di dekat kota Rajagaha, sehubungan dengan biksuni Kisagotami. Pada suatu ketika, dewa Sakka, raja para dewa, datang bersama pengikut-pengikutnya untuk bersujud kepada Sang Buddha. Pada saat yang bersamaan, biksuni Kisagotami, dengan kemampuan batinnya, terbang di atas langit untuk datang bersujud kepada Sang Buddha. Tetapi, pada saat biksuni Kisagotami melihat dewa Sakka dan rombongannya sedang bersujud kepada Sang Buddha, ia menunda perjalanannya. Dewa Sakka melihat biksuni Kisagotami, bertanya kepada Sang Buddha siapakah wanita itu, dan Sang Buddha menjawab, "Sakka! Ia adalah putri-Ku, Kisagotami." Sang...

Kisah Seorang Brahmana Penipu - Dhammapada

Dhammapada ayat 394 bab Syair Brahmana Kisah Seorang Brahmana Penipu Kim te jatahi dummedha, kim te ajinasatiya, abbhantaram te gahanam, bahiram parimajjasi. Apa gunanya rambut kusut, orang dungu? Apa gunanya pakaian kulit kijangmu? Dalam batin penuh dengan kekotoran, dan kau tidak membersihkan nafsu-nafsumu. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Kutagara, di dekat kota Vesali, sehubungan dengan seorang brahmana penipu. Seorang brahmana palsu memanjat pohon di dekat pintu gerbang Vesali dan bergantungan terbalik seperti seekor kelelawar di atas cabang pohon. Dari posisi yang aneh ini, ia berseru, "Para warga! Para warga! Bawakan saya seratus ekor sapi, beberapa batangan perak dan sejumlah budak. Jika kalian tidak membawakan semua itu kepadaku, jika aku terjatuh dari pohon ini dan mati, maka kota kalian ini akan binasa." Masyarakat yang ada di kota takut kalau kota mereka akan hancur jika brahmana itu jatuh dan mati. Mereka membawakan semua...



Sekilas Info


PEMBANGUNAN VIHARA MAHASAMPATTI


Vihāra Mahāsampatti mengajak para dermawan berhati mulia untuk menjadi penyokong Dhamma dan penganjur berdana dengan berdana COR LANTAI.


Luas bangunan Vihāra Mahāsampatti ± 5555 m2. Untuk itu Vihāra Mahāsampatti yang terletak di Jalan Pajang No. 1-3-5-7-9-11, Kel. Sei Rengas Permata, Kec. Medan Area, Medan, Sumatera Utara, masih sangat membutuhkan kedermawanan Anda.



Baca di situs resminya:

http://donasi.viharamahasampatti.or.id





MEDITASI VIPASSANA


Sukhesikarama Mindfulness Forest (SUMMIT), Bakom, Cianjur, Jawa Barat:

Tempat terbuka sepanjang tahun bagi yang ingin berlatih secara intensif baik mingguan, bulanan, maupun tahunan.

Channel di Youtube Sukhesikarama TV

“Bukan ada waktu baru bermeditasi, tetapi luangkanlah banyak waktu untuk bermeditasi”





PEMBANGUNAN RAKKHITAVANA BUDDHIST CENTER


Panitia pembangunan RAKKHITAVANA BUDDHIST CENTRE memberi kesempatan untuk berbuat kebajikan, demi terwujudnya pembangunan RAKKHITAVANA BUDDHIST CENTRE di Jl. LetJend Jamin Ginting KM 27, sebagai tempat meditasi yang terpadu, sunyi, segar, serta bernuansa asri dengan lokasi yang terjangkau dalam waktu 1 jam dari kota Medan.

Baca di halaman Facebooknya:

Rakkhitavana.