Postingan

Sigala Sutta

Sigalovada Sutta Sigalovada Sutta merupakan khotbah Buddha Sakyamuni yang berkaitan dengan etika di masyarakat, yang bersumber dari adat istiadat, kebudayaan, dan ajaran kebenaran menurut ajaran agama. Sutta ini berisikan wejangan Buddha Sakyamuni kepada Sigala, seorang putera perumah tangga Buddhis yang tinggal di kota Rajagaha. Kedua orang tua Sigala adalah penganut agama Buddha yang taat dan berbakti kepada Buddha, tetapi mereka tidak berhasil mengajak putranya mengikuti jejak mereka. Ketika ayah Sigala akan meninggal dunia, ia berpesan kepada Sigala untuk melaksanakan permintaannya untuk menghormati 6 penjuru pada waktu subuh. Demikianlah yang telah kudengar. Pada suatu ketika, Sang Buddha berdiam di vihara Veluvana (Hutan Bambu) di Kandakavinapa (Suaka Tupai), di dekat kota Rajagaha. Pada waktu itu, Sigala, seorang perumah tangga muda, bangun pagi-pagi sekali dan keluar dari Rajagaha. Lantas dengan rambut dan pakaian basah, sambil beranjali ia menyembah ke berbagai arah, y...

Kisah Devahita, si Brahmana - Dhammapada

Dhammapada ayat 423 bab Syair Brahmana Kisah Devahita, si Brahmana Pubbenivasam yo vedi, saggapayanca passati, atho jatikkhayam patto, abhinnavosito muni, sabbavositavosanam, tamaham brumi brahmanam. Ia yang tahu kehidupan lampaunya, yang mengetahui surga dan neraka, telah mencapai kelahiran terakhir dengan kebijaksanaan, yang telah menjalankan hidup suci, mengakhiri nafsu keinginan, ia Kusebut orang suci. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, di dekat kota Savatthi, sehubungan dengan Devahita, seorang brahmana. Pada suatu ketika, Sang Buddha menderita sakit lambung dan ia meminta kepada biksu Upavana untuk mengambil air hangat dari Devahita, si brahmana. Devahita sangat gembira terhadap kesempatan yang jarang itu untuk berdana sesuatu kepada Sang Buddha. Selain air hangat, ia juga menitip biksu Upavana air sari tebu untuk Sang Buddha. Setelah sampai di vihara, biksu Upavana menyediakan air hangat untuk Sang Buddha mandi. Setelah mandi...

Kisah Biksu Angulimala Dhammapada

Dhammapada ayat 422 bab Syair Brahmana Kisah Biksu Angulimala (2) Usabham pavaram viram, mahesim vijitavinam, anejam nhatakam buddham, tamaham brumi brahmanam. Ia yang tanpa rasa takut, mulia, gagah, bijak, sang penakluk nafsu, pembersih noda, yang telah mencapai penerangan sempurna, ia Kusebut orang suci. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, di dekat kota Savatthi, sehubungan dengan biksu Angulimala. Pada suatu ketika, raja Pasenadi dan ratu Mallika mengadakan persembahan makanan kepada Sang Buddha beserta biksu-biksu-Nya yang berjumlah 500 orang biksu. Persembahan itu berskala besar yang tidak dapat dibandingkan oleh siapapun. Pada acara itu, setiap biksu dilayani oleh seekor gajah yang memegangi sebuah payung putih di atas kepalanya untuk menutupi pancaran sinar matahari. Akan tetapi, panitia penyelenggara hanya dapat menghadirkan 499 gajah yang terlatih dengan baik dan mereka harus mengambil seekor gajah yang tidak terlatih dan ga...

Kisah Biksuni Dhammadinna - Dhammapada

Dhammapada ayat 421 bab Syair Brahmana Kisah Biksuni Dhammadinna Yassa pure ca paccha ca, majjhe ca natthi kincanam, akincanam anadanam, tamaham brumi brahmanam. Ia yang tidak lagi melekat kepada masa lampau, masa sekarang dan masa mendatang, yang tidak terikat dan tidak menginginkan apapun, ia Kusebut orang suci. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Veluvana, di dekat kota Rajagaha, sehubungan dengan biksuni Dhammadinna. Di Rajagaha terdapat seorang upasaka yang bernama Visakha. Setelah berulang-ulang kali mendengar khotbah Dhamma Sang Buddha, Visakha mencapai kesucian tingkat anagami dan ia berkata kepada istrinya, "Terimalah semua harta bendaku. Sejak hari ini, aku tidak akan terlibat di dalam urusan rumah ini." Isrinya, Dhammadinna, menjawab, "Siapa yang ingin menelan ludah yang telah kau buang?" Ia meminta izin dari suaminya untuk menjadi biksuni. Setelah menjadi biksuni, ia pergi ke sebuah vihara yang terletak di dekat s...

Kisah Biksu Vangisa - Dhammapada

Dhammapada ayat 419 dan 420 bab Syair Brahmana Kisah Biksu Vangisa Cutim yo vedi sattanam, upapattinca sabbaso, asattam sugatam buddham, tamaham brumi brahmanam. Yassa gatim na jananti, deva gandhabbamanusa, khinasavam arahantam, tamaham brumi brahmanam. Ia yang dapat mengetahui, kematian dan kelahiran semua makhluk, dan sudah tidak lagi terikat, diberkahi dan tercerahkan, ia Kusebut orang suci. Ia yang jejaknya tidak dapat dilacak, baik oleh dewa, gandhabba ataupun manusia, yang telah melenyapkan segala kekotoran, ia Kusebut orang suci. Sang Buddha mengucapkan kedua ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, di dekat kota Savatthi, sehubungan dengan biksu Vangisa. Di kota Rajagaha terdapat seorang brahmana yang bernama Vangisa yang hanya dengan mengetuk tengkorak orang mati maka ia dapat mengetahui ke alam mana orang itu dilahirkan, apakah di alam dewa, alam manusia, atau salah satu dari 4 alam sengsara (apaya). Beberapa orang brahmana membawa Vangisa ke bebera...

Kisah Biksu Nataputtaka -2- Dhammapada

Dhammapada ayat 418 bab Syair Brahmana Kisah Biksu Nataputtaka (2) Hitva ratim ca aratim ca, sitibhutam nirupadhim, sabbalokabhibhum viram, tamaham brumi brahmanam. Ia yang telah membuang rasa suka dan tidak suka, yang tenang dan tanpa kekotoran batin, menaklukkan seluruh dunia*, ia Kusebut orang suci. Seluruh dunia yang dimaksud adalah enam landasan indera. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Veluvana, di dekat kota Rajagaha, sehubungan dengan biksu Nataputtaka, putra seorang penari. Seperti kisah sebelumnya (baca kisah biksu Nataputtaka - 1 ), Nataputtaka, putra seorang penari yang memasuki keanggotaan Sangha dan mencapai kesucian arahat. Beberapa orang biksu mendatangi Sang Buddha dan melaporkan kepada-Nya bahwa biksu Nataputtaka mengaku dirinya telah mencapai kesucian tingkat arahat. Sang Buddha berkata kepada mereka, "Para biksu! Nataputtaka telah melepaskan semua keinginan memperoleh kesenangan dari apapun." Sang Buddha lalu me...

Kisah Biksu Nataputtaka -1- Dhammapada

Dhammapada ayat 417 bab Syair Brahmana Kisah Biksu Nataputtaka (1) Hitva manusakam yogam, dibbam yogam upaccaga, sabbayogavisamyuttam, tamaham brumi brahmanam. Ia yang melepaskan keterikatan duniawi, maupun keterikatan surgawi, sebenarnya telah bebas dari segala ikatan, ia Kusebut orang suci. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, di dekat kota Savatthi, sehubungan dengan biksu Nataputtaka, putra seorang penari. Pada suatu ketika, seorang penari berkeliling kota sambil bernyanyi dan menari sementara putranya, Nataputtaka, memperoleh kesempatan untuk mendengarkan khotbah Dhamma Sang Buddha. Setelah mendengar khotbah itu, ia memasuki keanggotaan Sangha dan mencapai kearahatan dalam waktu yang singkat. Pada suatu hari, pada saat Sang Buddha dan para biksu, termasuk biksu Nataputtaka sedang berkeliling menerima dana makanan, di tengah jalan mereka lewat di depan anak laki-laki dari penari lain. Melihat pria itu menari, beberapa orang biksu bert...



Sekilas Info


PEMBANGUNAN VIHARA MAHASAMPATTI


Vihāra Mahāsampatti mengajak para dermawan berhati mulia untuk menjadi penyokong Dhamma dan penganjur berdana dengan berdana COR LANTAI.


Luas bangunan Vihāra Mahāsampatti ± 5555 m2. Untuk itu Vihāra Mahāsampatti yang terletak di Jalan Pajang No. 1-3-5-7-9-11, Kel. Sei Rengas Permata, Kec. Medan Area, Medan, Sumatera Utara, masih sangat membutuhkan kedermawanan Anda.



Baca di situs resminya:

http://donasi.viharamahasampatti.or.id





MEDITASI VIPASSANA


Sukhesikarama Mindfulness Forest (SUMMIT), Bakom, Cianjur, Jawa Barat:

Tempat terbuka sepanjang tahun bagi yang ingin berlatih secara intensif baik mingguan, bulanan, maupun tahunan.

Channel di Youtube Sukhesikarama TV

“Bukan ada waktu baru bermeditasi, tetapi luangkanlah banyak waktu untuk bermeditasi”





PEMBANGUNAN RAKKHITAVANA BUDDHIST CENTER


Panitia pembangunan RAKKHITAVANA BUDDHIST CENTRE memberi kesempatan untuk berbuat kebajikan, demi terwujudnya pembangunan RAKKHITAVANA BUDDHIST CENTRE di Jl. LetJend Jamin Ginting KM 27, sebagai tempat meditasi yang terpadu, sunyi, segar, serta bernuansa asri dengan lokasi yang terjangkau dalam waktu 1 jam dari kota Medan.

Baca di halaman Facebooknya:

Rakkhitavana.