Postingan

Kisah 30 Orang Biksu - Dhammapada

Dhammapada ayat 175 bab Syair Dunia Kisah 30 Orang Biksu Hamsa diccapathe yanti, ikase yanti iddhiya, niyanti dhira lokamha, jetva maram savahinim. Angsa-angsa berpergian lewat langit, mereka yang sakti berpergian lewat angkasa, orang bijakasan yang telah mengatasi Mara, akan melampaui keduniawian. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, di dekat kota Savatthi, sehubungan dengan 30 orang biksu yang berkunjung. Pada suatu hari, 30 orang biksu datang untuk bersujud kepada Sang Buddha. Pada saat mereka memasuki rungan, biksu Ananda, pendamping Sang Buddha, meninggalkan ruangan dan menunggu di luar. Setelah beberapa saat, biksu Ananda masuk, namun ke-30 orang biksu itu tidak lagi terlihat. Ia pun bertanya kepada Sang Buddha ke mana perginya para biksu yang berkunjung itu. Sang Buddha berkata, "Ananda, biksu-biksu itu, setelah mendengar ajaran-Ku, mencapai kesucian arahat. Lalu mereka dengan kekuatan batinnya, pergi melalui angkasa." ...

Kisah Seorang Gadis Penenun - Dhammapada

Dhammapada ayat 174 bab Syair Dunia Kisah Seorang Gadis Penenun Andhabutho ayam loko, tanuke'ttha vipassati, sakuno jalamuttova, appo saggaya gacchati. Kebanyakan orang tidak dapat melihat dengan jelas, hanya sedikit yang dapat melihat dengan bijaksana, bagaikan segelintir burung yang dapat lolos dari jerat, demikianlah, sedikit orang yang dapat terlahir di alam dewa. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di tempat suci Aggavala, di kota Alavi, sehubungan dengan seorang gadis penenun. Pada akhir sebuah acara persembahan dana di Alavi, Sang Buddha membabarkan dhamma mengenai ketidakkekalan Kelompok Kehidupan (khandha). Intisari ajaran Sang Buddha adalah, "Hidupku tidaklah kekal. Bagiku, kematianlah yang kekal. Aku pasti akan mati, aku akan berakhir dengan kematian. Hidup tidak abadi, kematianlah yang abadi." Sang Buddha juga mendorong agar para umat selalu mawas diri dan berusaha merenungkan sifat alami Kelompok Kehidupan. Sang Buddha berujar, ...

Kisah Biksu Angulimala - Dhammapada

Dhammapada ayat 173 bab Syair Dunia Kisah Biksu Angulimala Yassa papam katam kammam, kusalena pidhiyati, so'mam lokam pabhaseti, abbha muttova candima. Ia yang berbuat kebajikan, meninggalkan kejahatan yang pernah diperbuat, maka ia akan menerangi dunia dengan sinar kebijaksanaan, bagaikan rembulan yang terbebas dari awan. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, sehubungan dengan biksu Angulimala. Biksu Angulimala adalah putra dari Kepala Pendeta dalam istana raja Pasenadi dari kerajaan Kosala. Nama aslinya adalah Ahimsaka. Pada saat cukup umur, ia dikirim ke kota Takkasila, kota yang terkenal sebagai Kota Pelajar. Ahimsaka amat cerdas dan taat kepada gurunya. Tak heran jika ia disayangi oleh guru dan istrinya. Karena itu, banyak teman-teman sekelasnya yang iri hati kepadanya. Teman-temannya mendatangi guru mereka dan memfitnah bahwa Ahimsaka mempunyai niat jahat terhadap dirinya. Awalnya sang guru tidak percaya pada kata-kata mereka, ...

Kisah Biksu Sammajjana - Dhammapada

Dhammapada ayat 172 bab Syair Dunia Kisah Biksu Sammajjana Yo ca pubbe pamajjit va, pacchi so nappamajjati, so'mam lokam pabhaseti, abbha muttova candima. Orang yang dulunya lalai, namun akhirnya sadar, maka ia akan menerangi dunia dengan sinar kebijaksanaan, bagaikan rembulan yang terbebas dari awan. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, di dekat kota Savatthi, sehubungan dengan biksu Sammajjana. Biksu Sammajjana menghabiskan banyak waktunya untuk menyapu vihara. Pada saat itu, biksu Revata juga tinggal di vihara yang sama. Tidak seperti biksu Sammajjana, biksu Revata lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermeditasi dan perenungan mental secara mendalam. Melihat kebiasaan biksu Revata itu, biksu Sammajjana berpikir bahwa biksu-biksu lainnya hanya melewatkan waktu mereka tanpa berbuat apa-apa. Pada suatu hari, biksu Sammajjana menemui biksu Revata dan berkata, "Kau sangat malas, hidup dari makanan yang dipersembahkan atas da...

Kisah Pangeran Abhaya - Dhammapada

Dhammapada ayat 171 bab Syair Dunia Kisah Pangeran Abhaya Etha passathimam lokam, cittam rajarathupamam, yattha bala visidanti, nattbi sango vijanatam. Lihatlah dunia ini, bagaikan kereta kuda kerajaan. Orang-orang bodoh terjerat oleh dunia, orang-orang bijaksana tidak melekat kepada hal itu. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Veluvana, sehubungan dengan pangeran Abhaya. Pada suatu hari, pangeran Abhaya dengan gagah pulang ke istana setelah berhasil menumpas pemberontakkan yang terjadi di daerah perbatasan. Raja Bimbisara amat kagum kepadanya. Selama 7 hari diadakan pesta untuk memuliakan dan menghormati pangeran Abhaya, juga dihadiahkan seorang penari untuk menghibur dirinya. Pada hari ketujuh, pada saat penari itu menghibur sang pangeran dan pengikut-pengikutnya di sebuah taman, ia terserang stroke, terjatuh dan meninggal di tempat. Pangeran Abhaya terkejut dan amat tertekan. Dengan penuh kesedihan, ia menemuni Sang Buddha untuk menghilangkan...

Kisah 500 Biksu - Dhammapada

Dhammapada ayat 170 bab Syair Dunia Kisah 500 Biksu Yatha pubbulakam passe, yatha passe maracikam, evam lokam avekkhantam, maccuraja na passati. Bila seseorang melihat keduniawian, seperti melihat gelembung air, atau sebuah bayangan, maka raja kematian tidak akan menemukannya. Sang Buddha mengucapkan ayat ini pada saat berada di vihara Jetavana, di dekat kota Savatthi, sehubungan dengan lima ratus orang biksu. Pada suatu hari, 500 orang biksu, setelah menerima petunjuk meditasi dari Sang Buddha, pergi ke dalam sebuah hutan untuk melatih meditasi. Namun, kemajuan yang mereka peroleh hanya sedikit. Mereka pun kembali untuk menemui Sang Buddha untuk meminta petunjuk-petunjuk meditasi yang lebih cocok. Di tengah perjalanan kembali ke vihara Jetavana, mereka melihat sebuah bayangan dan mereka pun memusatkan pikiran kepada bayangan itu. Setibanya mereka di vihara Jetavana, begitu sampai di halaman depan vihara badai mulai menerpa. Karena tetesan besar air hujan turun, pada g...

Kisah Raja Suddhodana - Dhammapada

Dhammapada ayat 168 dan 169 bab Syair Dunia Kisah Raja Suddhodana Uttitthe nappamajjeyya, dhammam sucaritam care, dhammacari sukham seti, asmim loke paramhi ca. Dhammam care sucaritam, na nam duccaritam care, dhammacari sukham seti, asmin loke paramhi ca. Jangan mengabaikan kewajiban melatih diri, latihan itu harus dijalankan dengan benar. Mereka yang menjalankan latihan dengan benar, akan hidup bahagia di alam ini dan alam berikutnya. Jalankanlah latihan dengan benar, jangan menjalankan latihan yang menyimpang. Mereka yang menjalankan latihan dengan benar, akan hidup bahagia di alam ini dan alam berikutnya. Sang Buddha mengucapkan kedua ayat ini pada saat berada di vihara Nigrodharama, di dekat kota Kapilavatthu, sehubungan dengan ayah Sang Buddha, raja Suddhodana. Pada saat Sang Buddha mengunjungi Kapilavatthu untuk pertama kalinya Ia tinggal di vihara Nigrodharama. Di sana Sang Buddha membabarkan Dhamma kepada para kerabatnya. Raja Suddhodana yakin bahwa Sang ...



Sekilas Info


PEMBANGUNAN VIHARA MAHASAMPATTI


Vihāra Mahāsampatti mengajak para dermawan berhati mulia untuk menjadi penyokong Dhamma dan penganjur berdana dengan berdana COR LANTAI.


Luas bangunan Vihāra Mahāsampatti ± 5555 m2. Untuk itu Vihāra Mahāsampatti yang terletak di Jalan Pajang No. 1-3-5-7-9-11, Kel. Sei Rengas Permata, Kec. Medan Area, Medan, Sumatera Utara, masih sangat membutuhkan kedermawanan Anda.



Baca di situs resminya:

http://donasi.viharamahasampatti.or.id





MEDITASI VIPASSANA


Sukhesikarama Mindfulness Forest (SUMMIT), Bakom, Cianjur, Jawa Barat:

Tempat terbuka sepanjang tahun bagi yang ingin berlatih secara intensif baik mingguan, bulanan, maupun tahunan.

Channel di Youtube Sukhesikarama TV

“Bukan ada waktu baru bermeditasi, tetapi luangkanlah banyak waktu untuk bermeditasi”





PEMBANGUNAN RAKKHITAVANA BUDDHIST CENTER


Panitia pembangunan RAKKHITAVANA BUDDHIST CENTRE memberi kesempatan untuk berbuat kebajikan, demi terwujudnya pembangunan RAKKHITAVANA BUDDHIST CENTRE di Jl. LetJend Jamin Ginting KM 27, sebagai tempat meditasi yang terpadu, sunyi, segar, serta bernuansa asri dengan lokasi yang terjangkau dalam waktu 1 jam dari kota Medan.

Baca di halaman Facebooknya:

Rakkhitavana.